DESAIN DAN ANALISIS TEGANGAN PIPELINE CROSSING
Jessica Rikanti Tawekal 1 dan Krisnaldi Idris 2
Program StudiTeknikKelautan
FakultasTeknikSipildanLingkungan, InstitutTeknologi Bandung,
Jl. Ganesha 10 Bandung 40132
1 jechiika.rikanti@gmail.com dan 2 krisnaldi@ocean.itb.ac.id
Abstrak: Pada saat penentuan rute pipa, tidak jarang ditemukan kasus dimana rute pipa yang akan ditentukan bertemu dengan
sebuah objek existing seperti pipa bawah laut dan kabel bawah laut. Maka, pipeline crossing harus dibuat agar pipa
tetap dapat mengikuti rute yang telah ditentukan tetapi tidak menggangu objek existing tersebut.Selain itu, medan
yang dilalui oleh saluran pipa sangat beragam, yaitu mulai dari dalam laut, dataran rendah, lembah, dan di dalam
tanah. Dalam pengoperasiannya akan banyak ditemukan berbagai macam persoalan, baik persoalan kelelahan
(fatigue), korosi (corrosion), maupun retak (crack). Keretakan pada pipa menjadi persoalan yang sangat
diperhatikan karena efek lanjutannya bisa mengakibatkan kebocoran dan ledakan. Banyak pipa bawah laut dari
industri minyak di Indonesia mengalami masalah retak pada sebagian besar pipa yang telah terpasang, dan biaya
untuk memperbaikinya sangat mahal. Mengingat begitu besarnya biaya dalam perbaikan pipa, maka dalam tahap
perancangan perlu dilakukan analisis wall thickness, analisis stabilitas pipa bawah laut (on-bottom stability
analysis), analisis panjang bentang bebas pipa (free span analysis), dan analisis tegangan (stress analysis). Kode
yang digunakan sebagai acuan untuk tiap analisis pun berbeda-beda. Untuk perhitungan ketebalan dinding,
digunakan kode DNV RP OS F101 sebagai acuan. Sedangkan untuk analisis on-bottom stability, ada 2 kode yang
digunakan sebagai perbandingan yaitu DNV RP E305 dan DNV RP F109. Untuk analisis free span, digunakan kode
DNV RP F105 sebagai acuan.
Kata kunci: pipeline crossing, free span, stress analysis, wall thickness, on-bottom stability
