ANALISIS TRANSPORTASI DAN INSTALASI RIGID RISER PADA SISTEM FREE STANDING HYBRID RISER
Yonathan Mozes Mandagi dan Dr. Paramashanti, S.T, M.T.
Program Studi Teknik Kelautan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung
Jl Ganesha 10 Bandung 40132
parama@ocean.itb.ac.id
Abstrak. Seiring dengan perkembangan aktivitas eksplorasi dan produksi migas yang merambah ke perairan yang lebih dalam, dibutuhkan pengembangan teknis yang giat dan ekonomis untuk sistem riser. Saat ini, sistem riser laut dalam yang banyak digunakan adalah sistem Steel Catenary Riser (SCR) yang merupakan salah satu contoh dari sistem flexible riser. Konstruksi sistem SCR merupakan sebuah konstruksi yang melewati tahap pengelasan di daratan karena pada umumnya sistem ini diadaptasi dari konsep produksi struktur untuk laut dangkal. Maka dari itu, kapal dengan spesifikasi yang tinggi dibutuhkan untuk menginstal sistem riser laut dalam ini, dengan hargasewa kapal harian dan biaya mobilisasi yang tinggi. Selain itu, semakin dalam perairannya, maka desain riser untuk sistem ini akan semakin besar dan berat, dimana menimbulkan resiko kerusakan yang semakin besar. Untuk menanggulangi kekurangan pada sistem flexible riser, dikenalkan sistem baru yang bernama Free Standing Hybrid Riser (FSHR). FSHR merupakan gabungan dari flexible riser dan
rigid riser. Desain FSHR harus memperhatikan proses transportasi dari lokasi fabrikasi ke lokasi pemasangan dan proses instalasi, termasuk bagian rigid riser.
Proses transportasi rigid riser dilakukan dengan metode towing, terdapat beberapa alternatif metode towing, yaitu surface tow, mid-depth tow, bottom tow, dan off-bottom tow yang masing-masing akan mempengaruhi besarnya gaya yang bekerja selama proses transportasi ini. Dengan demikian, diperlukan suatu analisis untuk mempertimbangkan metode towing yang dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Selain proses transportasi, instalasi rigid riser juga mempunyai tantangan tersendiri dalam instalasi FSHR. Hasil desain rigid riser sangat berpengaruh pada proses instalasinya termasuk tebal dinding riser yang menentukan apakah riser tersebut akan berhasil untuk diinstal atau mengalami kegagalan yang mungkin terjadi selama proses instalasi, sehingga diperlukan penentuan nilai tebal riser yang optimum sesuai dengan pengecekan kriteria pada API RP 2RD, 1998. Kemudian tahapan-tahapan dalam proses instalasi rigid riser perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kondisi-kondisi kritis saat instalasi dalam menentukan keberhasilan suatu rigid riser terpasang pada riser base, dengan membandingkan tegangan von Mises yang terjadi dengan tegangan yang diizinkan sesuai dengan kekuatan material rigid riser itu sendiri.
